Sunday, June 24, 2012

Bisakah Depresi & Skizofrenia Diobati dengan Hematopsikiatri?

Dok, saya ingin tahu lebih jauh tentang Hematopsikiatri. Dokter pernah sebutkan bahwa ada hubungan darah dengan depresi. Depresi ini termasuk Skizofrenia atau penyakit jiwa lainnya atau tidak?

Jika seorang ibu yang mengidap depresi bergolongan darah AB dan ketiga anaknya bergolongan darah B apakah depresi itu bisa menurun ke anaknya? Depresi bukan disebabkan karena lingkungan saja ya? Dimana saya bisa dapat informasi ini lebih banyak?

Terima kasih atas waktu dan perhatiaannya, saya esti mahasiswa biokimia. Tertarik dengan Hematopsikiatri karena ibu saya menunjukkan gejala Skizofrenia ringan, saya ingin banyak belajar tentang teori yang dokter pelajari.

Esti Rahayu, estiXXX@gmail.com

Jawaban

Berikut ini jawaban singkat dari kami, mengingat pengetahuan dan wawasan kami yang masih terbatas.

1. Riset yang saya lakukan masih tahap awal atau dini. Rencananya sedang atau akan dilanjutkan hingga ke tingkat genomics dan proteomics, hingga menemukan link antara golongan darah dan semua penyakit termasuk depresi dan skizofrenia di tingkat molekuler.

2. Menurut riset yang kami lakukan, golongan darah A dan AB yang berkemungkinan lebih rentan atau lebih berisiko menderita depresi. Namun bukan berarti semua orang bergolongan darah A dan AB pasti pernah depresi.

Adapun riset tentang hubungan golongan darah dengan skizofrenia,belum kami lakukan sehingga kami belum tahu golongan darah apakah yang rentan menderita skizofrenia. Wanita lebih rentan menderita depresi daripada pria.

Perlu dibedakan antara depresi dan skizofrenia.

Berikut ini sedikit penjelasan tentang keduanya, semoga mudah dipahami.

Depresi merupakan gangguan mental yang umum terjadi yang ditandai dengan suasana hati yang tertekan atau sedih (depressed mood), kehilangan kesenangan, perhatian atau minat (yang biasanya disukai), merasa bersalah, merendahkan konsep atau citra diri sendiri, gangguan tidur (bisa mudah mengantuk, gampang tertidur, atau sulit tidur), gangguan selera makan (bisa enggan/tidak mau makan atau bahkan berlebihan makan karena selalu merasa lapar), merasa energi yang dimiliki berkurang, kurangnya konsentrasi atau kurang bisa untuk fokus pada satu hal.

Menurut WHO (2011), ada beberapa fakta menarik berkaitan dengan depresi:

1. Sekitar 121 juta orang diseluruh dunia menderita depresi.
2. Depresi merupakan salah satu penyebab utama ketidakberdayaan atau ketidakmampuan (disability) di seluruh dunia.
3. Depresi dapat dengan mudah didiagnosis dan diobati di tingkat pelayanan primer (misalnya: puskesmas).
4. Masih kurang dari 25% penderita depresi yang telah memiliki akses ke pelayanan yang efektif, terpadu, dan berkesinambungan.

Schizophrenia (kanker jiwa, skizofrenia) merupakan bentuk penyakit mental yang berat yang memengaruhi sekitar 7 per 1000 populasi dewasa, terutama di usia 15-35 tahun (meskipun bisa juga dialami oleh usia berapapun).

Penderita biasanya dianggap aneh dan gila, dan ironisnya kondisi ini diperparah oleh keluarga dan masyarakat yang seringkali mengucilkan (mengisolasi) atau menjauhi penderita. Kondisi ini diperparah lagi dengan stigma negatif yang melekat pada penderita skizofrenia, meskipun ia telah dinyatakan sembuh oleh dokter atau keluar dari RS Jiwa.

Menurut WHO (2011), ada beberapa fakta menarik berkaitan dengan skizofrenia:
1. Skizofrenia memengaruhi sekitar 24 juta orang di seluruh dunia.
2. Skizofrenia merupakan gangguan yang dapat dirawat (treatable), terapi akan menjadi lebih efektif di stadium awal.
3. Lebih dari 50% penderita skizofrenia belum mendapatkan perawatan yang sesuai dan maksimal.
4. Sekitar 90% penderita skizofrenia yang tak terawat berada di negara-negara berkembang.
5. Perawatan penderita skizofrenia dapat dilakukan di level komunitas, dengan dengan melibatkan peran serta komunitas dan keluarga secara aktif.

Bila seorang ibu menderita depresi, maka kecenderungan anaknya menjadi besar lebih besar, karena sang Ibu membawa gen atau kromosom tertentu yang membawa traits depresi.

Benar sekali depresi bukan hanya karena faktor lingkungan saja, melainkan disebabkan karena multifaktor.

Informasi lebih lengkap mungkin bisa Esti dapatkan melalui searching di Google, Springer, Pubmed, Medline, Embase, dsb. atau jika memang tertarik untuk melakukan riset bersama, silakan hubungi saya via email ditoanurogo@gmail.com.

Demikian penjelasan kami, mohon maaf bila penjelasan kami ini belum memuaskan.
Salam sehat dan sukses selalu !

dr. Dito Anurogo

No comments: