Monday, March 2, 2015

Balita 2 Tahun yang Ngeyel Sehingga Bikin Bingung Ortu

Siang. Saya baru punya anak 1 cowok usia 2 tahun. Dia begitu aktif tidak bisa diam dan sama hewan saja tidak ada rasa takut. Semua menganggap dia anak nakal. Kadang saya sampai malu. Kalau diingatkan suka ngeyel diberi peringatan keras juga tidak bisa. Bagaimana Mbak solusinya?

Herry Eddy
herryeddyXXXXXX@gmail.com

Jawaban

Halo Pak Herry yang sedang kebingungan memiliki anak yang aktif. Anak memiliki tugas perkembangan sesuai dengan usianya, dan saat ini tugas perkembangan anak Bapak salah satunya adalah motorik kasar dan pembentukan kestabilan gerakan sehingga wajar jika ananda terlihat aktif.

Jika dikaitkan dengan perasaan tidak takut dengan hewan, kemungkinan besar hal itu karena rasa ingin tahunya yang cukup tinggi sehingga ia ingin mengetahui banyak hal.

Apa yang bisa dilakukan? Memfasilitasi kebutuhan bergeraknya dengan memperbanyak aktivitas fisik seperti berenang atau bersepeda atau lari pagi.

Ketika ia tidak bisa diberitahu/ngeyel maka dapat dijelaskan secara perlahan dan sesuai dengan kemampuan pemahaman anak seusianya serta dilakukan dengan contoh konkrit sehingga lebih mudah dipahami.

Semoga bermanfaat.

Ratih Zulhaqqi, M.Psi

2 comments:

putry tryaz said...

Dok saya mau tanya bagaimana caranya menerapi anak usia 2 tahun supaya bisa cepat bicara?soalnya adek saya belum bisa bicara di usianya yang 7 hari lagi mencapai 2 tahun, mohon dibalas dok, terimakasih

Anonymous said...

Usia dua tahun ke atas, umumnya anak sudah bisa melafalkan dan merangkai kata. Jika si kecil belum bisa bicara di usia tersebut, apa yang harus orangtua lakukan?

Banyak orangtua ragu dan takut untuk pergi ke dokter anak atau psikolog meski telah menyadari, anak menunjukkan gejala mengalami gangguan bicara dan bahasa. Padahal, jika usia si kecil lebih dari 3 tahun tapi belum bisa melafalkan kata, tak ada salahnya lho, berkunjung ke terapis wicara.

Bagaimana proses terapi wicara?
Terapis wicara melakukan evaluasi awal yang digunakan untuk mendapatkan bagaimana keadaan awal anak yang mengalami bahasa dan bicara anak.

Pertama: Pemeriksaan mekanisme mulut dan sekitarnya yang meliputi bentuk, kekuatan dan pergerakan dari bibir, langit-langit, gigi, lidah dan gusi. Tujuannya adalah untuk mengetahui bahwa faktor yang menyebabkan kelainan dalam berbicara tidak disebabkan oleh struktur dari alat berbicara tersebut.
Kedua: Pengucapan dari anak (artikulasi) untuk mengetahui kemampuan dalam mengucapkan huruf-huruf konsonan dalam bahasa Indonesia. Biasanya terapis akan menggunakan gambar atau tulisan yang dapat mewakili konsonan tertentu.
Ketiga: Kemampuan pemahaman (reseptif) dan pengungkapan secara verbal (ekspresif). Misalnya dengan menanyakan ‘mana hidung?’ kemudian anak dapat menunjuk pada hidungnya dan menanyakan ‘ini apa?’ kemudian anak akan menjawab dengan pertanyaan yang diberikan secara verbal.Umumnya, anak berusia 2 tahun sudah memiliki sedikitnya 300 kosa kata.
Keempat: Evaluasi suara yang dilihat dari nada (pitch) biasanya dari rendah ke tinggi, kualitas (apakah serak), kekerasan (loudness), resonansi (misalnya sengau).
Kelima: Evaluasi kelancaran berbicara yang artinya pola berbicara yang menggunakan ritme. Apakah anak berbicara dengan gagap atau tidak.
Keenam: Evaluasi formal pendengaran. Meskipun secara profesional adalah wewenang dari ahli THT, namun terapis wicara melihatnya dari sisi dimana gangguan pendengaran berdampak pad aperkembangan berkomunikasi dan perkembangan akademis.
Dari hasil analisa, terapis akan membuat suatu perencanaan terapi yang disebut sebagai Individualized Educational Plan (IEP).

Kapan terapi dapat dihentikan?
Ketika kemampuan bicara si kecil sudah setara dengan teman-teman seusianya. Terapis
wicara juga mempunyai data tentang berapa jumlah normal perbendaharaan kata yang harus dimiliki anak usia tertentu. Frekuensi dan durasi untuk masing-masing anak pasti akan berbeda, tergantung dari diagnosis awal, keadaan si anak, dan kecepatan ia menyerap proses pembelajaran dalam terapi.