Wednesday, December 3, 2014

Bagaimana Cara Mengontrol Nafsu Makan?

Dokter, saya selalu sarapan pagi namun ketika sudah jam 10 perut rasanya sudah keroncongan. Ketika jam makan siang saya jadinya selalu makan banyak. Gimana sih cara mengontrol nafsu makan? Apa perlu saya minum obat? Kalau perlu obatnya apa ya Dok? Bagaimana juga kiat khusus untuk menurunkan berat badan minimal 5 kg? Satu lagi, ya Dok, perut saya juga buncit sehingga kalau pakai kaos ketat jadi tidak pede. Bagaimana cara untuk membakar lemak di perut? Terima kasih.

Nindyala (Wanita lajang, 18 tahun)
nindyala22XXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 159 cm, berat badan 59 kg

Jawaban

Obesitas adalah kondisi/keadaan yang menunjukkan ketidakseimbangan antara tinggi dan berat badan akibat jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat badan yang melampaui ukuran ideal. Obesitas ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT dinyatakan sebagai berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Jadi IMT = BB : kuadrat TB.

Nilai normal IMT adalah 18,5 – 24,9.
Obesitas derajat I bila skor IMT 25,0 – 29,9.
Obesitas derajat II bila skor IMT 30,0 – 40,0.
Obesitas III bila skor IMT >40.

Cara praktis lainnya adalah dengan mengukur berat badan relatif (BBR), yaitu: berat badan (BB) dibagi (tinggi badan - 100) lalu hasilnya dikalikan 100%.BBR = BB : (TB - 100) X 100%.

Keterangan:
< 90% kurang dari normal
90% – 110% : normal
110%– 120% : lebih dari normal
120% – 130% : obesitas ringan
130%– 140% : obesitas sedang
>140% : obesitas berat

Obesitas (kegemukan) memiliki konsekuensi di bidang fisik, psikososial, dan fungsional. Di bidang fisik, penderita obesitas amat rentan menderita beragam penyakit atau gangguan, seperti: hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), kanker, diabetes tipe 2, kolestasis, dislipidemia, menurunnya aliran darah otak, mengorok (sleep apnea), problematika ortopedik, ketidaknormalan haid (khusus wanita), gout dan hiperurisemia, steatosis hepatik, resistensi insulin dan intoleransi glukosa, penyakit kandung empedu. Di bidang psikososial, penderita obesitas rentan terhadap depresi, diskriminasi, rendahnya percaya diri, stereotipe negatif, marginalisasi sosial, stigma negatif, sering menjadi sasaran ejekan atau bahan tertawaan, kesan tubuh negatif.

Di bidang fungsional, penderita obesitas akan mengalami sering tidak masuk kerja atau sekolah, disabilitas, keterbatasan mobilitas, menurunnya prestasi akademik, berkurangnya produktivitas, hingga terancam dipecat atau dikeluarkan dari militer/polisi (untuk profesi ini).

Strategi efektif untuk evaluasi dan managemen/terapi obesitas menggunakan 5A, yaitu: assess, advise, agree, assist, dan arrange. Untuk obat-obatan antiobesitas haruslah diresepkan oleh dokter mengingat banyaknya efek samping. Misalnya: Lorcaserin memiliki efek samping sakit kepala, vertigo, lelah, mual, mulut kering, sulit buang air besar. Orlistat memiliki efek samping kram usus, diare, oily spotting. Phentermine dan topiramate (extended release) memiliki efek samping meningkatnya denyut jantung, cacat saat melahirkan, perasaan geli/kesemutan di tangan dan kaki, insomnia (sulit tidur), vertigo, sukar buang air besar, mulut kering. Beragam obat-obatan ini dapat direkomendasikan dokter untuk terapi obesitas dalam jangka waktu lama.

Adapun antiobesitas yang boleh direkomendasikan dokter untuk penggunaan jangka pendek adalah agen simpatomimetik, seperti: phentermine, diethylpropion, benzphetamine, dan phendimetrazine. Obat-obat ini tidak boleh diberikan atau dikontraindikasikan pada penderita obesitas dengan hipertensi, penyakit jantung koroner, hipertiroidisme, dan penderita dengan riwayat penyalahgunaan obat.

Pencegahan
Prinsip pencegahan dan penatalaksanaan obesitas sebenarnya sederhana, yaitu: mengurangi asupan energi dan meningkatkan keluaran energi.
Obesitas dapat dicegah dengan cara-cara berikut ini:

1. Mengenali beragam obat-obat yang menyebabkan obesitas.
Beragam obat yang disebutkan ini menyebabkan obesitas karena meningkatkan selera makan: golongan antikonvulsan (asam valproat, karbamazepin), golongan antidepresan (amitriptilin, imipramin, fenelzin), golongan antihipertensi (klonidin, guanabenz, metildopa, prazosin, terazosin, propranolol, nisoldipin), golongan antipsikotik (klorpromazin, thiothixene, haloperidol, olanzapine, clozapine, risperidone, quetiapine), golongan kortikosteroid, golongan psikotropik (lithium), golongan sulfonilurea (glipizide, glyburide). Bila diberi resep oleh dokter, maka tanyakan efek sampingnya, apakah meningkatkan selera makan atau menyebabkan obesitas.

2. Buatlah jurnal atau diare makan harian. Kenalilah dan catatlah dengan teliti dan teratur tentang: apa saja yang telah Anda makan, situasi pencetus lapar, waktu makan, dsb. Cobalah untuk berdisiplin dan tegas terhadap diri sendiri.

3. Pengaturan nutrisi dan pola makan. Berhenti makan sebelum kenyang dan tidak akan makan sebelum lapar. Konsumsi sedikit lemak (25-30 % x total kalori yang diperlukan tubuh). Kurangi konsumsi makanan yang tinggi karbohidrat, perbanyak asupan serat. Seringlah konsumsi sayur dan buah segar. Baik pula bila sering mengonsumsi jus buah dicampur dengan jus sayur.

4. Dukungan sahabat, keluarga, komunitas, masyarakat.

5. Berolahraga secara teratur. Luangkan waktu 150-300 menit setiap harinya untuk beraktivitas fisik sedang, termasuk berolahraga, misalnya: berenang, berjalan kaki cepat, jogging, bersepeda, berlari, olahraga pernapasan. Jadi intinya adalah perbanyak aktivitas fisik.

6. Cara paling sederhana untuk mereka yang sibuk adalah meluangkan waktu untuk fitness bersama sahabat atau atasan, memarkir mobil atau kendaraan agak jauh dari kantor, melakukan yoga atau peregangan bersama teman sekantor sebelum dan sesudah bekerja, memilih untuk naik atau turun dengan tangga daripada dengan lift/eskalator. Kurangi waktu untuk menonton TV, bermain game, batasi chatting/akses via media sosial (WA, BB, twitter, Facebook, skype, camfrog, dsb).

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo

No comments: