Monday, October 14, 2013

Mengatasi Anak yang Suka Jahil dan Iseng ke Teman-temannya

Siang, saya mempunyai keluhan terhadap anak perempuan saya yang berumur 6 tahun. Dia tangannya suka iseng terhadap teman-temannya terutama yang dibawah umurnya, suka mencubit, meledek sampai nangis, sedangkan kalau di sekolah juga suka iseng samateman-temannya, suka mencemooh temannya dan kata ibu guru suka jadi provokator.

Saya bingung bagaimana cara mengatasinya, padahal sudah saya peringati, bahkan kalau saya kesal suka saya pukul dan cubit, tapi tidak pernah kapok. Saya mohon bantuannya, bagaimana mengatasi anak yang jahil dan suka iseng terhadap teman-temannya? Terimakasih.

Srilestari (Perempuan menikah, 33 tahun)
tharie_XXXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 160 cm, berat badan 74 kg

Jawaban

Ibu Sri yang sedang bingung,

Sebenarnya, dibalik semua keisengan anak Ibu ada hal positif yang muncul yaitu ia memiliki kreativitas dalam melakukan interaksi dengan anak lain. Hal yang perlu Ibu lakukan adalah mengajaknya berdiskusi dan bisa menggunakan buku cerita atau media lain yang menjelaskan bahwa kita bisa berteman dengan cara yang lain seperti menyapa teman lebih baik daripada mencubit atau mengajak teman bernyanyi bersama lebih menyenangkan daripada mencemooh dll. Ibu tidak perlu terlalu menghakimi anak atas perilaku yang ia lakukan, namun kita harus memberikan contoh konkret yang bisa ia lakukan sebagai pengganti keisengannya.

Jika anak Ibu sering menjadi provokator teman-temannya maka sebenarnya anak Ibu berpotensi menjadi leader bagi teman-temannya maka sebaiknya ia diajak untuk menjadi provokator dalam melakukan hal-hal yang positif. Seperti mengajak teman-teman membuang sampah ditempatnya, mengajak teman membereskan mainan dll.

Cara Ibu memukul dan mencubit pada akhirnya akan menjadi contoh yang paling nyata bagi anak Ibu dalam menyelesaikan masalah, dan ia akan melakukan hal tersebut ke teman-temannya. Jadi lebih baik banyak melakukan diskusi atau berbicara dengan situasi yang santai daripada marah dan memukul. Anak boleh dikenalkan dengan konsekuensi (akibat) dari apa yang ia lakukan namun bukan dikenalkan dengan kekerasan (pemukulan dan omelan serta cacian)

Selamat mencoba.

Ratih Zulhaqqi, M.Psi

No comments: