Friday, June 27, 2014

Ayah Terkena Anemia Aplastik, Haruskah Terus-menerus Minum Obat?

Dokter, ayah saya berusia 71 tahun, terkena penyakit anemia aplastik. Beliau sudah terkena penyakit tersebut sejak tahun 2011 dan sudah rutin rawat jalan di suatu rumah sakit. Saat ini masih meminum obat yang diberikan dokter, meskipun saya dan keluarga sudah jarang membawa ayah saya ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter tersebut. Hal ini dikarenakan setiap kali ayah saya dibawa ke rumah sakit, hasil tetap menunjukkan jumlah sel darahnya rendah baik leukosit, eritrosit, tromobosit dan hb-nya. setiap kali datang dokter menganjurkan untuk terus meminum obat. Beliau meminum obat prednison, folic acid, nevradin dan terkadang disuntik neulastin untuk meningkatkan sel darah putih. Saat ini saya membawa beliau untuk periksa darah di laboratoium klinik, meskipun tidak sering. Dan dari hasil pemeriksaan tetap menunjukkan sel darah masih rendah.

Dari Dokter terdahulu, beliau juga dianjurkan untuk makan yang banyak agar sel darahnya tinggi. Namun nafsu makan ayah rendah, ditambah giginya yang sudah tanggal membatasi jenis makanannya.

Dokter mengatakan akan menstop meminum obat bila sel darahnya meningkat. Namun hal tersebut tidak pernah terjadi. Dan karena hasilnya yang sama, dengan gejala ayah saya yang terus lemas, saya tetap memberinya minum obat tersebut.

Yang jadi masalah dan kekhawatiran saya adalah ayah saya yang di awal terkena penyakit, masih bisa bicara dan berjalan walaupun tidak lama, saat ini sudah ngawur berbicara, sulit mendengar/budek, jalan dan berdiri sudah tidak kuat, dan sering mengaruk-garuk kulitnya.

Bagaimana menurut dokter, apakah saya harus menstop obat yang diminum ayah saya bila dilihat dari gejala tersebut. Namun saya khawatir ada apa-apa nantinya. Karena pernah suatu waktu lupa memberi minum obat, dan ayah saya sangat lemas seperti pingsan.

Mohon penjelasannya. Terimakasih.

Mawan (Pria lajang, 28 tahun)
mawan_latiefXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi badan 165 cm, berat badan 53 kg

Jawaban

Dear Mawan,

Penyakit anemia aplastik adalah penyakit gangguan pembentukan sel-sel darah dari sumsum tulang. Pada dasarnya pengobatan definitifnya adalah melalui transplantasi sumsum tulang, itupun ada yang tidak berhasil. Karena prosedur sumsum tulang sulit dan berisiko, bisa diberi dengan obat imunoglobulin injeksi atau steroid (dalam hal ini ayah anda mendapat prednisone), umumnya bila tidak terdapat respon setelah 1-3 bulan mendapat steroid maka obat tersebut akan dikurangi dosisnya dan dihentikan, dan diberikan obat penambah stamina atau vitamin saja.

Saran saya tetap konsultasi berkala ke dokter spesialis penyakit dalam untuk memantau kondisi tubuhnya.

Salam, semoga bermanfaat.

dr. Indra Wijaya, SpPD, M.Kes

No comments: