Thursday, June 7, 2012

Sering Mendadak Lemas dan Tak Berdaya

Dokter, saya sering secara tiba-tiba tubuh saya lemas seperti tidak ada daya sama sekali. Selain itu saya juga sering merasakan sakit kepala yang mendadak saya juga mempunyai penyakit maag yang cukup akut. Pernah saya periksa ke dokter dan di tensi, 120/90. Ada apa dengan saya ya dok? Terimakasih.

Mey R (Perempuan Menikah, 31 Tahun), dpXX_XX@yahoo.com
Tinggi Badan 165 Cm dan Berat Badan 57 Kg

Jawaban

Dear Ny. Mey Rusmini,
Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami.

Langsung menuju ke inti persoalan, ya.
Dari pertanyaan Ibu, kami menggarisbawahi tiga persoalan:
1. Lemas mendadak
2. Sakit kepala mendadak
3. Maag akut

Untuk keluhan 'sering lemas mendadak', ada beberapa kemungkinan diagnosis, seperti:
1. Anemia
2. Trombofilia
3. Cachexia-anorexia syndrome
4. Asthenia
5. Hiponatremia
6. Hipokalemia
7. Hipokalsemia
8. Gangguan elektrolit tubuh
9. Avitaminosis (kekurangan vitamin tertentu)
10. Kemungkinan lainnya

Untuk sakit kepala, secara umum dalam medis disebut sebagai sefalgia. Nah, dari sefalgia ini masih ada beberapa kemungkinan diagnosis yang lebih spesifik:

1. Tension type headache
2. Neuralgia cranial
3. Trigeminal neuralgia
4. Migren
5. Vertigo
6. Nyeri kepala klaster
7. Nyeri kepala servikogenik (cervicogenic headache)
8. Nyeri kepala akibat penggunaan obat yang berlebih (medication overuse)
9. Nyeri kepala akut paskatrauma
10. Nyeri kepala yang berkaitan dengan substansi (misal: MSG) atau proses withdrawal-nya
11. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan tulang tengkorak kepala, mata, leher, telinga, hidung, rongga hidung (sinus), gigi, mulut, struktur wajah, atau bagian kepala lainnya.
12. Vaskulitis (giant cell arteritis)
13. AVM (intrakrnial atau perispinal)
14. Kemungkinan lainnya

Untuk penyakit maag akut, ada beberapa kemungkinan diagnosis, misalnya:
1. Dyspepsia syndrome
2. GERD (gastroesophageal reflux disease)
3. Irritable bowel syndrome
4. Gastritis akut
5. (recurrent) abdominal pain
6. Kemungkinan lainnya

Penyebab paling umum atau paling sering dari dyspepsia syndrome dibagi menjadi tipe organik dan tipe fungsional. Untuk yang tipe organik, penyebab tersering adalah: peptic ulcer disease, gastroesophageal reflux, biliary tract disease, dan kanker lambung (gastric cancer).

Tanda, gejala, dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter dapat membedakan penyebab tipe organik ini dari tipe fungsional. Meskipun demikian, tetap diperlukan pemeriksaan penunjang, yaitu: endoscopic atau radio graphic ultrasound, untuk memastikan atau menegakkan diagnosis.

Penyebab dispepsia tipe organik yang kurang umum, misalnya: radang pankreas (pancreatitis), obat-obatan (drugs), malabsorption syndromes, gangguan metabolisme tubuh (metabolic disorders), penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease), dan gangguan pembuluh darah serta jaringan kolagen (collagen vascular disorders).

Ada kemungkinan, pada diri Ibu telah terjadi gangguan homeostasis (keseimbangan), gangguan atau penurunan daya tahan (imun) tubuh, gangguan di saluran pencernaan, gangguan di kepala atau pembuluh darah di kepala, atau psikosomatis.

Untuk lebih memastikan, segeralah ke dokter keluarga terdekat, sebab ketiga keluhan Anda masih memerlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang hanya boleh dilakukan dan direkomendasikan oleh dokter.

Kasus seperti di atas amat menarik bila ditinjau dari sisi epidemiologi, dan untuk keperluan riset. Dalam skala / cakupan populasi, diperlukan analisis menggunakan the McMaster Loop, yang merupakan framework for assessing the importance and feasibility of a research initiative, dimana tahapannya meliputi:

1. Burden of illness
Dengan cara menentukan status kesehatan menggunakan indikator status kesehatan.

2. Etiologi atau Kausa
Mengidentifikasi dan menilai semua penyebab yang mungkin.

3. Community Effectiveness
Menilai rasio rugi-laba dari intervensi dan memprediksi reduksi beban penyakit.

4. Efficiency
Menentukan hubungan antara biaya dan berbagai efek di dalam program.

5. Sintesis dan Implementasi
Mengintegrasikan berbagai kemungkinan, impact, dan efisiensi untuk membuat rekomendasi.

6. Monitoring dan reassessment
Memonitor secara berkelanjutan menggunakan marker (pertanda) yang terseleksi untuk membuat indikasi kesuksesan dan reassessment program.

Keenam tahapan ini haruslah dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan.
Demikian uraian kami. Semoga bermanfaat. Salam Sehat!

dr. Dito Anurogo

No comments: