Tuesday, January 6, 2015

Ingin Berumah Tangga Tapi Dihantui Trauma Perceraian Orang Tua

Salam dok, saya mau tanya sejak kecil saya selalu melihat orang tua bertengkar hingga usia saya 24 tahun (tahun lalu) orang tua saya bercerai. Tapi kok saat ini saya merasa trauma jika pacar saya mengajak saya menikah ya Dok? Kira-kira bagaimana ya Dok mengatasi perasaan takut atau trauma seperti itu?

Vidya (Wanita lajang, 25 tahun)
vidya_lizaXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 165 cm, berat badan 49 kg

Jawaban

Halo, Mbak Vidya senang berjumpa dengan Anda. Terimakasih atas keterbukaan Anda.

Melihat pertengkaran orang tua untuk seroang anak merupakan sebuah ingatan yang kurang menyenangkan dalam hidupnya. Apalagi kalau Anda telah menyaksikan pertengkaran itu lama sekali. Kemungkinan Anda mengalami trauma (emosional dan psikologis) akibat melihat pertengkaran orang tua Anda, saya kurang mendapat informasi seperti apa pertengkaran yang pernah Anda saksikan.

Sudah pasti seorang anak yang melihat kejadian semacam itu akan merasakan perasaan insecure (rasa tidak aman) yang harusnya dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Itu jugalah yang Anda rasakan terhadap calon suami (pasangan) Anda. Melalui proses belajar (melihat, mendengar, mengalami) dari kejadian yang menimpa orang tua, Anda mulai berpikir dan mengantisipasi munculnya kejadian serupa pada pernikahan Anda kelak. Kemungkinan besar itu yang terjadi pada Anda saat ini. Rasa takut dan cemas hal itu akan berulang dalam kehidupan Anda sehingga Anda ragu-ragu untuk membuat keputusan penting dalam hidup Anda.

Mengatasi perasaan takut itu berarti mengatasi pula segala macam emosi yang timbul akibat trauma yang pernah Anda alami. Ada baiknya Anda menceritakan problem ini pada seorang professional (psikolog atau psikiater) agar bisa dilakukan trauma healing. Seringkali, klien dengan trauma berharap agar bisa melupakan ingat traumatic yang dialaminya. Namun sebetulnya tidak demikian harusnya, dalam trauma healing (menggunakan metode apapun) klien akan digiring pada sebuah penerimaan (secara kognitif, emosi maupun secara perilaku) bahwa kejadi traumatic tersebut merupakan bagian dari masa lalunya. Sehingga harapannya melalui proses terapi, klien juga dapat memetik sebuah pelajaran positif dari pengalaman di masa lalunya yang bisa dipakainya dalam kehidupan selanjutnya.

Hal penting yang lain, apakah calon suami Anda sudah paham dengan masalah ini? Keterbukaan serta komunikasi yang baik merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam sebuah pernikahan. Meskipun kemungkinan Anda trauma terhadap pernikahan (orang tua) Anda, namun disadari atau tidak, nantinya suami Anda adalah orang terdekat yang akan membantu Anda melalui kehidupan setelah pernikahan. Oleh karena itu, mulai saat ini perlu kiranya Anda berdua dengan calon suami membangun sebuah komunikasi dan rasa percaya sehingga pengalaman pahit yang pernah menimpa Anda dapat diatasi dan dilalui bersama dengan calon suami. Bila memang diperlukan, Anda bisa meminta professional untuk melakukan konseling pra nikah kepada Anda dan calon suami untuk mempersiapkan diri lebih matang sebelum masuk ke tahapan kehidupan yang baru.

Semoga jawaban ini membantu Anda.

Salam hangat.

dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ

No comments: