Thursday, August 20, 2015

Sering Sesak Napas Tapi Hasil Diagnosis Normal, Sakit Apa Ya?

Dokter saya ingin bertanya beberapa bulan ini badan saya terasa tidak enak. Saya ceritakan mendetail ya Dok, pertama saya merasa sesak napas saat malam hari. Sudah ke puskesmas dan cek air ludah ternyata negatif bronkhitis dan saya diberi obat antibiotik untuk dahak saya. Setelah 2 minggu berselang saya ada kuliah kerja lapangan ke Bali dan Yogya namun saat di perjalanan saya merasa nyeri di punggung dekat belikat, cuma satu titik ,dan itu sakitnya menembus sampai ke dada depan (sebelah kiri). Yang kanan juga begitu nyeri satu titik tapi tidak sampai ke depan.

Saya merasa sesak sekali namun masih bisa saya tahan dengan meminum susu beruang. Di Yogya saat saya berjalan, tiba-tiba napas saya sesak, hidung terasa tawar sekali, tidak dapat mencium aroma apapun. Kembali lagi dada terasa sakit dari punggung nembus ke dada. Setelah pulang ke Jakarta saya minta dirujuk ke RS terdekat setelah diperika toraks, kata dokter internist-nya paru-paru saya seperti gambaran orang merokok, padahal saya tidak pernah merokok. Sedangkan jantung saya kondisinya normal.

Saya diberi acymotrcin 3 butir dan ambroxol cair, setelah itu napas saya lumayan lega dan pegal yang menusuk hilang namun sebulan kemudian kambuh lagi. Namun berbeda Dok, kondisi saya waktu itu sedang diet untuk menurunkan kolesterol. Saya merasa di dada saya, tepatnya di tulang terasa nyeri dan punggung saya nyeri lagi tapi tidak menusuk seperti sakit dulu. Napas saya pun panjang, tidak ada tanda-tanda sesak napas cuma rasa nyeri di ulu hati.

Saya panik karena saya lihat di internet katanya gejala jantung. Selepas itu saya EKG yang berbaring itu Dok dan hasilnya normal. Namun saya merasa di dada tidak enak dan sering berdebar-debar. Sebelumnya saya juga meminum suplemen omepros Dok tapi yang saya rasa sekarang nyeri di punggung kiri dan di tekuk punggungnya sangat tidak nyaman. Apa yang harus saya lakukan Dok? Terimakasih sebelumnya ya Dok.

Fajar (Pria, 22 tahun)
fajarXXXXXXX@yahoo.com
Tinggi 168 cm, berat 64 kg

Jawaban

Dear Mas Fajar,

Singkat saja, ya. Setelah mencermati beragam keluhan tentang gejala fisik yang berulang, maka ada kemungkinan Anda menderita gangguan somatoform, lebih spesifiknya mengarah ke gangguan somatoform tak terinci atau gangguan somatisasi.

Ciri utama gangguan somatoform adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang, disertai dengan permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokter bahwa tidak dijumpai kelainan yang menjadi dasar keluhannya.

Pada gangguan somatisasi, keluhan-keluhan fisik sudah berlangsung setidaknya dua tahun. Pada kasus mas Fajar, masih berlangsung beberapa bulan. Jadi kecil kemungkinan ke arah diagnosis gangguan somatisasi. Sehingga gangguan somatoform tak terinci mungkin saja diagnosisnya.

Namun untuk lebih memastikan, alangkah bijaksana bila mas Fajar ini segera berkonsultasi ke psikiater (dokter ahli jiwa, dokter spesialis kejiwaan). Psikiater boleh jadi akan memberikan Patient Health Questionnaire (PHQ). PHQ adalah alat diagnostik klinis berupa kuesioner, berisi 13 pertanyaan untuk menegakkan diagnosis gangguan somatoform.

Bila benar terbukti gangguan somatoform, maka psikiater akan merekomendasikan terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy). Obat hanya direkomendasikan oleh psikiater sesuai indikasi dan penyebab yang mendasarinya.

Selain itu, saran saya sederhana: tenangkan hati dan pikiran. Milikilah mindset (cara berpikir) positif. Awali hidupmu dengan rasa syukur dan tawakal kepada Allah. Berdoalah setiap akan melakukan sesuatu hal. Setiap bangun tidur di pagi hari, teriakkanlah 'Hidupku sehat dan bahagia!'. Lalu visualisasikan (bayangkanlah) hal-hal terindah yang akan mas Fajar alami atau rasakan. Rasakanlah berjuta keajaiban di dalam kehidupan hanya dengan mengubah mindset.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo

No comments: