Thursday, June 28, 2012

2 dari 3 Anak Kena Polidaktili, Bagaimana Anak ke-4?

Dok, suami saya penderita polidaktili sedangkan saya normal. Kami memiliki 3 orang anak, 2 anak kami menderita polidaktili dan yang 1 normal. Jika kami mempunyai anak lagi, apakah anak kami akan normal atau menderita polidaktili juga?

Apakah bisa dilakukan operasi dengan cara pembuangan jari yang berlebihan, apabila jari tersebut tidak berkembang dan berfungsi normal? Di rumah sakit mana yang menyediakan fasilitas itu? Saran dan petunjuknya saya tunggu. Terimakasih.

Neneng Muwarni (Perempuan Menikah, 28 Tahun), neng.warni@yahoo.com
Tinggi Badan 154 Cm dan Berat Badan 50 Kg


Jawaban

Polidaktili adalah suatu kondisi dimana terdapat jari (tangan atau kaki) tambahan, disamping 5 jari yang normal disetiap anggota gerak. Kondisi ini dapat terjadi secara independen, dimana penderitanya hanya memiliki kelainan jari atau dapat juga merupakan bagian dari suatu sindrom (misalnya Down Syndrome; lihat 'Cemas Hamil Kedua Karena Anak Pertama Kena Trisomy 21') dimana penderitanya memiliki kelainan-kelainan lain. Pada sebagian besar kasus, polidaktili adalah kelainan independen.

Polidaktili independen disebabkan oleh mutasi pada satu atau lebih gen-gen yang bertanggungjawab pada pembentukan tangan dan kaki. Kelainan ini diwariskan secara autosomal dominan (lihat 'Bagaimana Mengecek Sindrom Apert?' dan 'Apakah Anak Bisa Normal Jika Menikahi Keluarga Albino?'), sehingga kelainan pada salah satu orangtua sudah cukup untuk membuatnya muncul pada keturunan. Pada pewarisan autosomal dominan, terdapat kemungkinan 50% pada setiap anak yang dilahirkan juga akan menjadi polidaktili.

Kelainan ini dapat dengan relatif mudah dikoreksi dengan pembedahan, bergantung pada jenis jaringan yang terlibat pada pembentukan jari tambahan. Jika tidak melibatkan tulang tambahan, pembedahannya tentu lebih mudah daripada jika melibatkan tulang tambahan. Konsultasi pada dokter bedah ortopedik tentu dapat memberikan jawaban mengenai penanganan yang sesuai untuk keluarga Ibu Neneng.

dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD

No comments: